Iklan

Disepakati Bersama, Seng Protes di Jatiluwih Mulai Dicabut

Tabanan, BaliUpdate.id – Setelah sempat menjadi sorotan publik dan viral di media sosial, seng-seng yang dipasang sebagai bentuk protes di kawasan Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, akhirnya mulai dicabut. Pencabutan dilakukan menyusul tercapainya kesepakatan antara pihak pengelola, masyarakat setempat, serta pemerintah daerah, sebagai langkah awal penyelesaian persoalan yang sempat memicu polemik.

Keberadaan seng protes sebelumnya menarik perhatian luas karena terpasang di kawasan persawahan Jatiluwih yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan dan aspirasi warga terkait pengelolaan kawasan wisata, khususnya menyangkut pembagian manfaat ekonomi dan tata kelola yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat lokal.

Dalam pertemuan yang melibatkan berbagai pihak, disepakati bahwa seng protes akan dicabut secara bertahap. Kesepakatan ini menandai adanya titik temu antara aspirasi warga dan komitmen pemerintah daerah untuk menata ulang pengelolaan kawasan Jatiluwih secara lebih adil dan transparan. Langkah ini juga diharapkan dapat mengembalikan citra Jatiluwih sebagai destinasi wisata budaya yang harmonis.

Perwakilan masyarakat menyampaikan bahwa pencabutan seng bukan berarti persoalan telah sepenuhnya selesai. Namun, keputusan tersebut diambil sebagai bentuk itikad baik agar dialog dapat terus berjalan tanpa menciptakan ketegangan di lapangan. Warga berharap kesepakatan yang telah dibangun dapat diwujudkan dalam kebijakan nyata, bukan sekadar janji.

Pemerintah Kabupaten Tabanan menyatakan komitmennya untuk mengawal hasil kesepakatan tersebut. Pemerintah menilai bahwa aspirasi masyarakat Jatiluwih perlu ditangani secara bijak mengingat kawasan ini memiliki nilai budaya, sejarah, dan ekonomi yang sangat penting bagi Bali. Pendekatan dialogis dinilai menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan.

Dalam konteks pariwisata, Jatiluwih selama ini menjadi salah satu ikon Bali yang mengedepankan keindahan alam dan sistem irigasi tradisional subak. Namun, meningkatnya kunjungan wisatawan juga membawa tantangan tersendiri, terutama terkait distribusi manfaat ekonomi dan tekanan terhadap lingkungan. Persoalan ini menjadi latar belakang munculnya aksi protes yang dilakukan warga.

Pengamat pariwisata menilai kesepakatan pencabutan seng protes merupakan momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan destinasi berbasis warisan budaya. Menurut mereka, keberlanjutan pariwisata di Jatiluwih sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat lokal serta penghormatan terhadap sistem subak sebagai warisan budaya hidup.

Pihak pengelola kawasan wisata Jatiluwih juga menyatakan kesiapan untuk melakukan pembenahan. Evaluasi terhadap mekanisme pengelolaan, transparansi keuangan, serta pola kerja sama dengan masyarakat akan menjadi agenda lanjutan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah munculnya persoalan serupa di kemudian hari.

Di sisi lain, pencabutan seng protes mendapat respons positif dari pelaku pariwisata dan wisatawan. Banyak pihak menilai bahwa keberadaan seng sempat mengganggu kenyamanan visual dan pengalaman wisata di kawasan tersebut. Dengan dicabutnya seng, diharapkan suasana Jatiluwih kembali mencerminkan keharmonisan antara alam, budaya, dan aktivitas pariwisata.

Meski demikian, publik tetap menaruh perhatian besar terhadap tindak lanjut kesepakatan yang telah dicapai. Transparansi proses dan keterbukaan informasi menjadi tuntutan utama agar kepercayaan masyarakat dapat terjaga. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada aspek estetika kawasan, tetapi juga pada keadilan sosial bagi masyarakat Jatiluwih.

Kasus seng protes di Jatiluwih menjadi pelajaran penting bagi pengelolaan destinasi wisata lain di Bali. Pertumbuhan pariwisata yang tidak diimbangi dengan tata kelola yang adil berpotensi memicu konflik sosial. Oleh karena itu, pendekatan partisipatif dan berbasis komunitas dinilai sebagai kunci keberlanjutan pariwisata Bali ke depan.

Dengan dicabutnya seng protes, Jatiluwih memasuki babak baru dalam upaya penataan kawasan wisata. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa kesepakatan yang telah dibuat benar-benar diimplementasikan secara konsisten. Jika hal ini dapat diwujudkan, Jatiluwih berpeluang menjadi contoh pengelolaan destinasi warisan budaya yang berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat lokal. (Tim)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest Articles