Kondisi Pasar Seni Sukawati, Kabupaten Gianyar, hingga kini masih belum sepenuhnya pulih. Sepinya kunjungan wisatawan berdampak langsung pada aktivitas perdagangan, khususnya bagi para pedagang yang menempati lantai atas pasar. Situasi ini memaksa mereka mencari cara alternatif agar usaha tetap berjalan.
Sejumlah pedagang mengaku jumlah pengunjung yang naik ke lantai atas masih sangat terbatas. Mayoritas wisatawan dan pembeli cenderung hanya beraktivitas di lantai bawah, sementara kios-kios di lantai atas kerap terlewatkan. Kondisi tersebut membuat omzet penjualan menurun dibandingkan periode sebelum pasar mengalami penurunan kunjungan.
Meski demikian, para pedagang tidak tinggal diam. Untuk bertahan, banyak di antara mereka mulai memanfaatkan penjualan berbasis online. Media sosial dan platform pesan instan menjadi sarana utama untuk menjangkau pembeli, baik dari dalam maupun luar Bali. Langkah ini dinilai cukup membantu menjaga arus penjualan meski tidak seramai transaksi langsung di pasar.
Salah satu pedagang menyebutkan bahwa penjualan online kini menjadi penopang utama pendapatan. Produk-produk kerajinan seperti patung, lukisan, kain, dan suvenir khas Bali dipasarkan melalui foto dan video yang dibagikan secara rutin. Pelanggan lama pun kembali dihubungi untuk menawarkan produk terbaru.
Perubahan pola penjualan ini menuntut pedagang untuk beradaptasi dengan teknologi digital. Tidak sedikit pedagang yang sebelumnya mengandalkan transaksi tatap muka kini harus belajar memotret produk, membuat konten promosi, hingga melayani pembeli secara daring. Meski tidak mudah, langkah ini dianggap sebagai jalan bertahan di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Pedagang juga berharap adanya perhatian lebih dari pihak terkait untuk menghidupkan kembali aktivitas di Pasar Seni Sukawati, khususnya di lantai atas. Penataan jalur pengunjung, promosi pasar, hingga penyelenggaraan kegiatan seni dinilai dapat membantu menarik minat wisatawan agar menjelajahi seluruh area pasar.
Pasar Seni Sukawati selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan tradisional Bali. Keberadaan pasar ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pedagang, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan ekonomi kreatif Gianyar. Oleh karena itu, keberlanjutan aktivitas pasar menjadi perhatian penting bagi banyak pihak.
Pengamat pariwisata menilai bahwa kondisi yang dialami pedagang Sukawati mencerminkan tantangan UMKM di era perubahan perilaku wisatawan. Digitalisasi dinilai menjadi solusi jangka menengah, namun tetap diperlukan upaya untuk menghidupkan kembali transaksi langsung di pasar tradisional.
Di sisi lain, wisatawan juga diharapkan dapat lebih meluangkan waktu untuk menjelajahi seluruh area Pasar Seni Sukawati. Dengan naik ke lantai atas, wisatawan tidak hanya mendapatkan pilihan produk yang lebih beragam, tetapi juga turut mendukung keberlangsungan usaha para perajin lokal.
Hingga kini, para pedagang tetap berharap kondisi pasar dapat kembali ramai seiring meningkatnya aktivitas pariwisata Bali. Sambil menunggu pemulihan tersebut, penjualan online menjadi strategi utama agar roda usaha tetap berputar dan para perajin bisa terus berkarya.
Situasi ini menjadi gambaran nyata ketangguhan pelaku UMKM Bali dalam menghadapi perubahan. Dengan memadukan cara tradisional dan digital, pedagang Pasar Seni Sukawati berusaha mempertahankan eksistensi di tengah tantangan yang ada.
📌 Ikuti terus perkembangan UMKM, pariwisata, dan kehidupan ekonomi Bali hanya di BaliUpdate.id.
Dapatkan berita terkini, kisah pelaku usaha lokal, dan informasi penting seputar Bali setiap hari.
👉 Kunjungi: www.baliupdate.id
👉 Bagikan artikel ini untuk mendukung pedagang dan UMKM lokal Bali.
















